Dicap Sebagai Orang Tak Berempati, Ternyata Ini Penyebab Seseorang Menjadi Psikopat

0

Tiap-tiap orang pada umumnya memiliki kepribadiannya masing-masing, begitu pula dengan seorang psikopat. Anda tentu pernah mendengar beberapa kisah mengenai psikopat yang kejam, bukan?

Psikopat biasanya dikenal sebagai orang yang sangat kejam, tidak berperasaan dan penuh dengan kekerasan. Selain itu, ciri-ciri orang dengan kepribadian antisosial ini sering kali membingungkan banyak orang.

Beberapa orang mengatakan bahwa hal seperti ini memiliki kaitan dengan kondisi otak seseorang. Apakah memang benar demikian? Akan tetapi, dapatkah perbedaan di otak tersebut bisa membantu menjelaskannya? Dan, yang lebih penting lagi, apakah sifat bawaan seperti itu bisa dibantu dengan pengobatan? Mungkin sebentar lagi anda bisa menemukan jawabannya.

Definisi Psikopat

Psikopat pada umumnya dianggap sebagai sebuah gangguan kepribadian. Meskipun Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) tidak secara resmi mengakui psikopati sebagai kondisi yang berdiri sendiri, Ia kemudian menggabungkannya di bawah “gangguan kepribadian antisosial” yang lebih luas.

Tapi apa itu psikopat sebenarnya? Pada tahun 1993, psikolog Kanada yang bernama Robert Hare, yang tidak lain adalah pencipta Checklist Hare Psychopathy yang terkenal, mendefinisikan psikopat sebagai “predator sosial yang memikat, memanipulasi dan tanpa ampun membajak hidup mereka”.

Bisa dibilang, mereka yang merupakan seorang psikopat biasanya tidak memiliki hati nurani terhadap orang lain. Robert mengatakan bahwa psikopat secara egois mengambil apa yang mereka inginkan dan melakukan apapun sesuka hati mereka, melanggar norma dan harapan sosial, tanpa sedikit pun memiliki rasa bersalah atau penyesalan.”

Apakah semua yang tadi barusan anda baca di atas terdengar cukup akrab untuk anda? Potret stereotip psikopat mungkin akan mengingatkan anda pada karakter fiksi seperti Hannibal Lecter, atau bahkan kepribadian nyata seperti pembunuh berantai Ted Bundy atau Jeffrey Dahmer.

Namun ketahuilah, beberapa orang berpendapat bahwa sebenarnya kebanyakan psikopat hidup di antara kita. Yang itu berarti, siapa saja yang berada di sekeliling anda berpotensi sebagai seorang maniak.

Menurut perkiraan yang didapat baru-baru ini, hanya di bawah 1 persen laki-laki yang tidak dilembagakan di Amerika Serikat yang merupakan psikopat.

Meskipun persentase ini kecil, orang-orang yang memiliki gangguan psikopati adalah 20-25 kali lebih mungkin untuk dipenjara daripada non-psikopat, dan setengah dari semua kejahatan kekerasan di AS diketahui dilakukan oleh psikopat.

Jika anda merasa bahwa boss atau mungkin tetangga anda memiliki kemungkinan memiliki kepribadian ini, bisa saja itu benar, mengingat di dalam bukunya, yang berjudul Snakes in Suits, Hare berpendapat bahwa para psikopat lebih banyak daripada yang kita duga, banyak dari mereka memiliki penampilan yang sempurna yang akan mengecoh mangsanya.

Namun, tidak semua orang anti sosial seperti ini adalah seorang pembunuh. “Mereka lebih cenderung menjadi pria dan wanita yang anda kenal, yang menjalani hidup dengan kepercayaan diri tertinggi, tetapi tanpa hati nurani”, tulis Hare di dalam bukunya.

Dalam artikel ini, kami akan mencoba untuk memberitahu apa yang terjadi di dalam otak orang-orang yang sangat percaya diri tersebut namun tidak memiliki kesadaran. Apakah hal semacam itu bisa dijelaskan oleh penjelasan neurologis? Apakah masalah tersebutlah yang membuat mereka berpikir seperti itu?

Ketika Otak Tidak Dilengkapi Dengan Rasa Empati

“Kurangnya empati adalah ciri khas dari individu dengan psikopati,” jelas Jean Decety, yakni seorang Profesor Irving B. Harris dalam bidang psikologi dan psikiatri di University of Chicago di Illinois dan sekaligus seorang ahli saraf yang terkenal di dunia yang mempelajari banyak tentang empati.

Beberapa penelitian berhasil membuktikan bahwa kurang atau tidak adanya saraf empati adalah salah satu karakter dari seorang maniak atau pembunuh.

Penelitian juga telah menunjukkan bahwa psikopat mungkin memiliki gangguan sistem neuron cermin (mirror neuron system), yaitu kesulitan dengan neuron, yang di dalam otak yang sehat bertugas mengaktifkan ketika kita melihat orang lain melakukan tindakan dan ketika kita melakukan tindakan yang sama pada diri kita sendiri.

Selain itu, secara klasik penelitian telah menemukan volume materi abu-abu di dalam otak yang disebut sebagai sistem paralimbic, yaitu kesatuan daerah otak yang bertanggung jawab untuk regulasi emosi dan pengendalian diri, menetapkan tujuan dan tetap termotivasi dalam menghadapi kepuasan tertunda.

Baru-baru ini, Prof Decety telah memimpin beberapa eksperimen yang menunjukkan bahwa psikopat tidak memiliki “peralatan” saraf untuk empati.

Dia dan timnya memindai otak dari 121 narapidana yang ditahan di penjara keamanan menengah AS, dimana pada saat itu mereka diperlihatkan foto yang menggambarkan situasi yang menyakitkan. Para peserta penelitian juga dinilai menggunakan Daftar Periksa Reiko Psikopat (PCL-R).

Studi ini juga menggunakan mesin fungsional (MRI) untuk memeriksa otak para peserta studi. Ketika peserta yang dianggap memiliki masalah psikopai yang tinggi diminta untuk membayangkan bagaimana kalau rasa sakit yang telah mereka lihat tersebut menimpa mereka, area otak yang relevan, yang diketahui terkait dengan pemrosesan emosi dan empati untuk rasa sakit telah “menyala” dalam mesin fungsional (MRI).

Area otak yang dimaksud ini adalah: insula anterior, korteks midcingulate anterior, korteks somatosensori dan amigdala kanan.

Namun, ketika individu tersebut diminta untuk membayangkan bahwa orang lain lah yang mengalami rasa sakit tersebut, area otak yang sama ternyata gagal untuk merespon. Selain itu, penelitian juga menemukan bahwa insulae peserta dan korteks prefrontal ventromedial (vMPFC) gagal terhubung ketika peserta harus mengambil perspektif yang lain.

The vMPFC, yang juga dikenal sebagai “hub sosial” dari otak kita, adalah area yang terlibat dalam pengambilan keputusan empatik, yang membantu kita untuk menimbang keputusan yang bermanfaat baik diri kita sendiri atau orang lain dan dalam menghubungkan perasaan dan pikiran kepada orang lain.

Tetapi tampaknya dalam kasus psikopat, sirkuit saraf yang harus diaktifkan selama empati berjalan dengan salah atau tidak seharusnya, sehingga membuat psikopat tidak siap untuk emosi dasar manusia ini.

Ciri-Ciri Psikopat Yang Bisa Dikenali Pada Kesan Pertama

Apakah anda pernah bertemu dengan seorang psikopat? Tahukah anda bagaimana cara mengenali mereka? Kebanyakan orang sama sekali tidak menyadari atau mengetahui bahwasannya di sekeliling mereka terdapat orang-orang dengan gangguan atau kepribadian seorang pembunuh seperti ini.

Munculnya psikopat di tengah-tengah publik merupakan hal yang bisa dibilang sangat mengerikan. Namun apa daya, psikopat ternyata memiliki karakter yang cukup sulit dikenali ketika mereka bergaul di masyarakat. Mengenali atau mengetahui beberapa ciri-ciri dari orang seperti ini adalah salah satu cara yang sangat tepat untuk menghindari mereka.

Charles Montaldo, seorang Ahli Kriminalitas, menjelaskan beberapa kesan yang diperlihatkan psikopat kepada orang lain:

  • Pada kesan pertama, psikopat umumnya muncul dengan ciri yang menawan, senang bersosialisasi, peduli dan ramah pada orang lain.
  • Secara lahiriah, mereka tampak logis, masuk akal, memiliki tujuan yang dipikirkan dengan matang, dapat memberikan penjelasan secara akurat dan memberikan tanggapan yang sesuai bahwa ada konsekuensi bagi para anti sosial dan pelanggar hukum.
  • Psikopat mampu menilai diri sendiri dan akan dengan terbuka mengoreksi kesalahan di masa lalu.
  • Psikopat tidak menunjukkan gejala-gejala umum perilaku neurotik, termasuk kegelisahan, kecemasan, histeria, perubahan suasana hati, kelelahan ekstrem, dan sakit kepala.
  • Dan pada situasi yang membuat orang lain kesal atau jengkel, psikopat malah terkesima dan memperlihatkan kekosongan emosi, tanpa ada rasa takut atau cemas.

Jika anda menemukan ada seseorang di sekeliling anda memiliki ciri-ciri di atas, alangkah baiknya jika anda mulai menjaga jarak perlahan demi perlahan, untuk menghindari anda terlalu dekat dan masuk perangkapnya. Ingat, sekali mereka mendapatkan anda, maka akan sulit untuk anda melarikan diri.

Oleh karena itu, mulai sekarang mulailah berhati-hati, terutama dengan orang yang baru anda kenal. Kita tidak pernah bisa memprediksi kapan dan dimana kita akan bertemu dengan orang-orang seperti ini.

Psikopat Sebagai Pembuat Keputusan Yang Buruk

Beberapa ilmuwan telah mengatakan bahwa seorang psikopat tidak sepenuhnya jahat, hanya saja mereka adalah orang yang sangat buruk dalam membuat keputusan.

Joshua Buckholtz, yang merupakan seorang profesor psikologi di Universitas Harvard di Cambridge, MA, bersama dengan rekan-rekannya telah memindai otak dari 49 narapidana yang ditahan di dua penjara keamanan menengah, sambil meminta mereka untuk menyelesaikan tes kepuasan yang tertunda.

Ini adalah situasi di mana mereka harus memilih antara menerima lebih sedikit uang dengan segera atau lebih banyak uang di kemudian hari.

Dan hasilnya, mereka menemukan bahwa area otak yang disebut ventral striatum, yaitu wilayah yang diikat untuk mengevaluasi nilai penghargaan langsung terlalu aktif pada peserta yang dianggap sangat sosiopat pada skala PCR-L. Untuk seorang Psikopat, terlalu melebih-lebihkan nilai imbalan langsung mereka.

Temuan ini juga berkorelasi dengan pekerjaan yang disebutkan di atas mengenai peran kunci dari vMPFC dalam psikopati. The vMPFC, menjelaskan Buckholtz dan rekan-rekannya, mengontrol striatum ventral, daerah pengolahan reward.

Jadi, jika anda ingin mendapatkan $ 100,000 tetapi untuk mendapatkannya anda harus membunuh seseorang, vMPFC kita dapat memberi tahu striatum ventral, “Tunggu sebentar! Anda mungkin ingin mengkaji kembali trade-off (tawaran) itu. Pertanyaan berupa apakah layak menghabisi nyawa orang lain hanya untuk uang? Dan bisakah anda menanggung konsekuensi dari tindakan anda tersebut?

Tetapi Buckholtz dan rekan menemukan bahwa dalam otak psikopat, vMPFC dan striatum ventral tidak melakukan komunikasi apapun.

Ketika dia menjelaskan, “Striatum memberikan nilai untuk tindakan yang berbeda tanpa banyak konteks temporal. Kita membutuhkan korteks prefrontal untuk membuat penilaian prospektif tentang bagaimana suatu tindakan akan mempengaruhi kita di masa depan – ‘Jika saya melakukan ini, maka hal buruk ini akan terjadi.”

Itulah sebabnya mengapa Buckholtz yakin bahwa seorang maniak akan mulai membuat pilihan yang buruk, karena mereka tidak akan memiliki informasi yang akan memandu pengambilan keputusan mereka ke tujuan yang lebih adaptif.

“Psikopat bukan lah alien, mereka adalah orang-orang yang membuat keputusan buruk,” Buckholtz menyimpulkan. Yah, kita bisa menambahkan, kalau terkadang memang yang mereka ambil adalah keputusan yang sangat, sangat, buruk.

Kaitannya Psikopati Dengan Hormon Testosteron

Secara keseluruhan, tampaknya ada konsensus di antara para peneliti bahwa psikopati turun ke sirkuit otak yang rusak. Tapi apa yang menyebabkan keterputusan ini di antara area otak? Beberapa telah mengatakan bahwa hormon seks laki-laki yaitu testosteron bisa menjadi pemicunya.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh para peneliti yang dipimpin oleh Prof. Karin Roelofs, di Donders Institute di Radboud University di Belanda, menegaskan bahwa otak para psikopat menunjukkan konektivitas yang buruk antara amigdala, yaitu kunci wilayah otak untuk memproses emosi, terutama ketakutan dan lebih banyak lagi pada korteks prefrontal.

Terlebih lagi, penelitian ini menemukan bahwa orang-orang tersebut juga memiliki tingkat testosteron yang sangat tinggi dan aktivitas yang lebih rendah di korteks prefrontal mereka. Melebihnya testosteron dapat menjelaskan mengapa ada lebih banyak psikopat laki-laki daripada perempuan.

“Individu psikopat sangat terkenal karena perilaku agresif yang diarahkan pada tujuan yang dikendalikan. Namun, selama tantangan sosial, mereka sering menunjukkan perilaku emosional yang tidak terkendali”, tulis para peneliti.

Prof Roelofs dan rekannya menyebut ini sebagai “aspek paradoks psikopati”. Menariknya, para peneliti mengatakan bahwa temuan mereka membawa harapan dan menginformasikan strategi masa depan untuk mengobati aspek tersebut, yang mungkin turun ke “potensi ketidakseimbangan dalam fungsi testosteron.”

Tapi bukankah ini terlalu optimis? Konsensus umum yang terlihat adalah bahwa psikopati tidak dapat disembuhkan. Namun, meskipun demikian, hal tersebut tidak akan langsung menghentikan orang-orang untuk bertanya, “Apakah kondisi ini bisa diobati?”

Psikopati Tidak Dapat Disembuhkan, Tapi Bisa Diobati

Jika sifat-sifat psikopat sangat berakar di jaringan saraf kita, apakah itu berarti bahwa intervensi terapeutik ditakdirkan gagal untuk mengatasinya? Belum tentu. Itulah jawaban yang diberikan oleh para peneliti.

Karena neuroplasticity otak, Prof Decety dan rekannya berpendapat bahwa baik itu terapi kognitif dan obat-obatan, keduanya dapat membantu memperbaiki “hubungan” yang rusak yang terjadi di area otak.

Prof Roelofs dan tim juga optimis akan hal ini. Seringkali, mereka berpendapat bahwa psikopat juga memiliki defisit perhatian. misalnya, jadi, jika kondisi seperti gangguan defisit perhatian dapat diobati, mengapa psikopati tidak bisa?

Tantangan terbesar mengobati psikopati, bagaimanapun, bergantung pada fakta bahwa psikopat tampaknya kebal terhadap hukuman. Para psikopat yang tidak bersalah dan penurut, tampaknya tidak takut atau belajar apa pun dari pembalasan, mungkin karena hubungan yang rusak antara amigdala otak dan korteks prefrontal.

Namun, model yang berpusat pada penguatan positif malah dapat bekerja. Dikembangkan oleh staf di Pusat Perawatan Anak Mendota (MJTC) di Madison, WI, yang disebut Model Dekompresi adalah intervensi kognitif-perilaku yang segera menghargai setiap tindakan atau sikap positif, tidak peduli seberapa kecil.

Selain itu, imbalannya juga skalabel. Pemuda dengan psikopatik diberitahu bahwa jika mereka bertahan dengan perilaku positif mereka, maka mereka akan diberi imbalan kecil dan ini bisa berkembang menjadi reward berupa hidangan penutup yang lezat, diizinkan untuk bermain video game dan seterusnya.

Mungkin karena otak psikopat sangat berpusat pada penghargaan, intervensi seperti yang ada di MJTC menghasilkan hasil yang “mengejutkan”. Dalam ringkasan intervensi mereka, laporan MJTC menunjukkan:

“Program ini memiliki dampak terbesar pada pelanggaran kekerasan serius, mengurangi resiko insiden mereka sekitar setengahnya. Pemuda dalam kelompok perlakuan ini diketahui enam kali lebih kecil kemungkinannya untuk terlibat dalam kekerasan kejahatan daripada remaja kelompok pembanding.”

Secara mengesankan, orang-orang muda yang tidak menerima pengobatan MJTC diketahui menewaskan 16 orang, sedangkan tidak ada pembunuhan yang terdaftar di kelompok intervensi. Bukankah ini sebuah hasil yang mengejutkan? Tetapi ini bukan satu-satunya intervensi yang terbukti berhasil.

Dalam ulasannya tentang penelitian yang ada, Lindsay Aleta Sewall, yang merupakan seorang peneliti di University of Saskatchewan di Saskatoon, Kanada mengatakan bahwa “koleksi studi yang semakin banyak telah menemukan bahwa pelaku psikopat yang menurunkan resiko mereka sebagai akibat dari pengobatan, menunjukkan tingkat yang lebih rendah dari kepulangan sakit.”

Sewall juga mengacu pada penelitian yang membuat titik vital, dimana pelanggar yang masih mendapat skor tinggi pada skala psikopati PCL-R setelah perawatan tidak berarti bahwa pengobatan tidak berhasil. Yang perlu kita lihat adalah residivisme.

Dengan kata lain, tidak begitu penting apakah psikopati dapat disembuhkan. Hal terpenting yang perlu dicari tahu adalah apakah itu dapat dikelola atau tidak.

Berdasarkan temuannya sendiri, Prof. Buckholtz menjelaskan, “Jenis pengambilan keputusan impulsif yang sama seperti yang kita lihat pada individu-individu psikopat juga telah dicatat dalam penghobi kompulsif dan penyalahguna narkoba.”

Dan, sama seperti orang-orang ini, meskipun orang tidak pernah bisa sepenuhnya disembuhkan, namun mungkin dengan pengobatan yang tepat, psikopat dapat belajar untuk menjalani hidup normal, satu hari pada satu waktu.

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa, orang yang menderita psikopati bisa berada dimana saja, bahkan bisa jadi saat ini anda sedang berteman dengan mereka. Keberadaan mereka sangat sulit dianalisis, karena pada umumnya mereka selalu tampil sebagai seorang yang menyenangkan, agar bisa dekat dengan orang di sekelilingnya.

Itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa mereka sangat ditakuti dan menyeramkan. Selain itu, ternyata kecenderungan mereka yang suka membunuh atau menghabisi orang lain tanpa rasa kasihan adalah disebabkan adanya gangguan saraf, dimana mereka tidak memiliki saraf empati seperti orang-orang normal pada umumnya.

Tidak adanya saraf inilah yang membuat mereka dengan tanpa adanya perasaan bersalah bisa berbuat sesuka mereka kepada orang lain. Mereka tidak pernah memikirkan apa itu undang-undang ataupun peraturan lainnya. Mungkin inilah sebabnya mengapa mereka juga dikenal sebagai pembuat keputusan yang buruk.

Tapi apapun itu, satu hal yang pasti adalah bahwa mereka adalah orang yang berbahaya dan perlu dihindari. Ketika anda bertemu dengan mereka, berusahalah untuk menghindar.

Dan apabila mereka mulai membuat kehidupan anda menjadi tidak nyaman, maka segeralah menghubungi polisi. Ingat, jangan pernah berpikir untuk mengatasi masalah seperti ini seorang diri, karena tindakan ceroboh sekecil apapun yang anda lakukan, bisa menjadi bumerang untuk diri anda sendiri. Mengertikan?

Share.

About Author