Sebuah Penelitian Temukan Kehidupan Yang Tersembunyi di Venus, Benarkah Itu?

0

Ada berapa banyak kah planet yang berada di dalam tata surya, yang diketahui sampai dengan detik ini? Benar, jawabannya adalah 8 (delapan) buah. Sebelumnya, jumlah planet dalam sistem tata surya kita berjumlah 9 buah.

Namun sejak Pluto, yaitu planet kesembilan yang letaknya sangat jauh dikeluarkan dari bagian tata surya, jumlah planet tersebut akhirnya berkurang satu.

Nah, dari kedelapan planet yang ada di galaksi milky way ini, Bumi adalah tempat dimana kita tinggal dan berada saat ini. Planet yang dikenal dengan julukan Planet Biru ini merupakan satu-satunya planet yang diketahui memiliki penghuni dan bisa dihuni oleh manusia. Bagaimana dengan ketujuh planet yang lainnya?

Apakah di sana juga ada kehidupan seperti yang ada di Bumi? Makhluk-makhluk seperti apakah yang berada atau tinggal di sana? Apakah mereka memiliki penampilan yang sama seperti kita atau seperti alien atau makhluk mengerikan lainnya, seperti  yang digambarkan di dalam film-film Barat?

Sampai dengan hari ini, belum ada manusia atau ilmuwan yang bisa memastikan kebenaran akan kehadiran makhluk-makhluk ini. Atau bisa jadi ada pihak-pihak yang sebenarnya sudah tahu dan pernah melihat mereka, hanya saja tidak memberitahukannya kepada masyarakat umum?

Kalau sudah membahas masalah ini, pasti akan dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan penyelesaiannya. Itulah sebabnya mengapa kami tidak akan membahas tentang makhluk-makhluk di luar angkasa ini. Jadi, apa yang akan dibahas kali ini? Penasaran ya? Ini nih pembahasannya.

Benarkah di Venus Terdapat Kehidupan?

Dari satu sampai delapan, planet manakah menurut anda yang paling istimewa? Kalau pertanyaannya begini, kemungkinan jawaban yang sama persentasenya pasti akan sangat kecil, karena masing-masing dari anda pasti punya jawaban yang berbeda-beda. Baiklah, kalau begitu kita ganti pertanyaannya. Pernahkah anda mendengar istilah bintang kejora? Tahukah anda julukan untuk planet apa itu?

Untuk anda yang mungkin baru pertama kali mendengar nama ini atau belum pernah mendengar kisahnya sebelumnya, kami akan memberikan sedikit penjelasan untuk itu. Bintang kejora merupakan sebutan untuk Planet Venus. Dikatakan bintang kejora, karena cahaya yang dihasilkan oleh planet ini sangat terang ketika dilihat dari Bumi.

Karena cahaya terang tersebutlah planet ini disebut sebagai bintang. Padahal kenyataannya, cahaya yang tampak tersebut tidak dihasilkan oleh Venus, melainkan didapatnya dari pantulan cahaya matahari.

Hal menarik dari planet kedua dalam sistem tata surya ini bukan hanya terletak pada keindahan cahayanya yang terlihat dari Bumi saja. Hasil penelitian terbaru yang dilakukan oleh para ilmuwan terhadap planet ini beberapa waktu yang lalu memberikan sebuah fakta menarik terbaru yang lainnya mengenai planet putih tersebut.

Apakah fakta menarik itu? Berikut penjelasannya.

Pernahkah anda berpikir mengapa tak pernah ada pendaratan yang dilakukan ke planet Venus? Kenapa manusia lebih sering mengunjungi Bulan dan Mars saja? Ternyata ada alasan kuat yang mendasari kenapa manusia enggan untuk melakukan ekperimen atau penelitian ke planet tersebut.

Sebagai planet yang terletak di urutan kedua terdekat dari matahari setelah Merkurius, Venus menjadi salah satu planet yang sangat panas dan paling tidak ramah pada sistem tata surya. Namun uniknya, meskipun berada pada suhu yang terbilang cukup ekstrim, planet ini ternyata masih bisa dihuni oleh makhluk hidup tertentu.

Kira-kira siapa ya yang dapat bertahan di planet Venus yang sangat amat panas ini? Fakta terbaru yang mengatakan bahwa terdapat kehidupan inilah yang membuat masyarakat menjadi sangat penasaran.

Jika dilihat dari bentuk dan strukturnya, wajar saja jika banyak orang yang berpendapat atau menganggap planet Venus sebagai kembaran Bumi. Pendapat tersebut mungkin muncul saat mengetahui perbandingan ukuran keduanya yang hampir sama dan begitu pun dengan gravitasi serta komposisinya.

Diameter planet Venus adalah sekitar 6.052 km. Sedangkan Bumi memiliki diameter sebesar 6.371 km. Cukup mirip kan? Kalau dibandingkan dengan ukuran planet-planet yang lainnya, ukuran keduanya lah yang paling mirip. Itulah sebabnya mengapa banyak yang menyebut mereka sebagai planet kembar.

Singkat katanya, planet ini adalah sebuah gambaran dunia (Bumi) yang ekstrim.

Ada Makhluk Hidup di Planet Venus

Meskipun permukaan Venus adalah pemandangan yang mengerikan, namun sebuah penelitian baru berhasil menunjukkan bahwa di sana ternyata terdapat kehidupan mikroba. Meskipun hanya mikroba, namun ini bisa menjadi awal yang baik bagi para ilmuwan untuk menemukan sesuatu yang lebih besar lagi yang terdapat di planet tersebut.

Ketika mereka sibuk mencari-cari informasi untuk mengetahui adanya kehidupan di tempat lain di tata surya selain di Bumi, kebanyakan dari para ilmuwan atau astronom biasanya hanya terpaku pada Mars, Bulan, atau satelit-satelit alami yang diselimuti oleh es milik planet lainnya, seperti Jupiter dan Saturnus.

Tapi kali ini, sepertinya mereka mulai menyadari sesuatu, yaitu bahwa untuk melihat ada tidaknya kehidupan lain di galaksi kita ini, terutama di tata surya, mereka hanya perlu melihat atau mencarinya ke tetangga terdekat dari planet dimana kita berada, yaitu Venus.

Di dalam sebuah makalah yang diterbitkan pada tanggal 30 Maret lalu, yaitu di dalam jurnal Astrobiology, tim peneliti internasional menunjukkan bahwa pada atmosfer Venus yang tebal dan asam kemungkinan ada bersemayam kehidupan dari sekelompok makhluk hidup. Mereka juga meyakini bahwa tempat itu benar-benar berfungsi sebagai tempat yang aman bagi kehidupan mikroba.

Di dalam makalah hipotesis, mereka tidak hanya menyajikan beberapa garis bukti yang menunjukkan awan venusian bisa menjadi simbol bentuk kehidupan yang ekstrim, tetapi juga menunjukkan bahwa kehidupan di Venus akan membantu menjelaskan fluktuasi awan planet, sebagai sebuah misteri yang telah menjangkiti para astronom untuk hampir satu abad.

Sebenarnya, para ilmuwan telah memperdebatkan kelayakan atmosfer Venus ini selama beberapa dekade lamanya. Carl Sagan adalah salah satu dari ilmuwan tersebut. Sebelumnya, Ia pernah menulis sebuah makalah tentang topik ini pada tahun 1963 yang bertuliskan: “our sister world is often still ignored as a target for astrobiological research”.

Kalau diartikan ke dalam bahasa Indonesia, judul tersebut akan menjadi seperti ini : “Dunia saudari (Venus)  kita yang sering diabaikan sebagai target untuk penelitian astrobiological.”

Sejak dulu alasan mengapa hal seperti ini bisa terjadi masih sama. Para ilmuwan dulu dan sekarang sama-sama berpikir bahwa permukaan Venus yang ekstrim lah yang hampir tidak diragukan lagi atau diyakini tidak memungkinkan adanya kehidupan.

Coba saja anda bayangkan, suhu planet ini adalah lebih dari 860 derajat Fahrenheit (450 Celsius) dan memiliki tekanan permukaan sekitar 90 kali lebih besar daripada yang ditemukan di Bumi.

Namun, terlepas dari fakta bahwa Venus sekarang adalah pemandangan yang mengerikan (sebagian besar disebabkan oleh efek rumah kaca), tapi sekali lagi kami katakan, planet ini adalah yang paling mirip dengan Bumi sampai dengan saat ini.

Venus memiliki banyak waktu untuk mengembangkan kehidupannya sendiri,” kata penulis utama Sanjay Limaye, yakni seorang ilmuwan planet di Pusat Sains dan Teknik Antariksa Universitas Wisconsin Madison, dalam siaran persnya.

Faktanya, penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa Venus suatu kali dapat mempertahankan iklim yang layak dihuni oleh makhluk hidup, dengan kandungan air di permukaannya selama 2 miliar tahun. “Itu adalah waktu yang jauh lebih lama daripada yang diyakini terjadi di Mars,” kata Sanjay.

Hal ini tentu saja akan memungkinkan adanya kehidupan pada awalnya yang terbentuk di permukaan Venus (ketika planet beracun lebih mirip Bumi masa kini) sebelum akhirnya bermigrasi ke awan venusian.

Meskipun skenario ini tampak tidak serupa atau mirip dengan yang ada di Bumi, namun selalu ada kemungkinan bahwa mikroorganisme seperti bakteri dapat (dan memang) disapu tinggi ke atmosfer.

Menurut rekan penulis David Smith dari NASA Ames Research Center, dengan menggunakan balon penelitian khusus, para ilmuwan bahkan telah menemukan mikroorganisme tingkat tinggi yang dapat bertahan hingga 25 mil (41 kilometer) di atas permukaan Bumi.

Selanjutnya, seperti yang ditunjukkan oleh makalah baru tersebut, serangkaian probe ruang yang dikirim ke Venus antara tahun 1962 dan 1978 berhasil menunjukkan bahwa, meskipun permukaan Venus tidak kondusif bagi kehidupan, namun atmosfer venusian ternyata sangat baik.

Pada ketinggian antara 25 dan 37 mil (40 dan 60 kilometer), suhu atmosfer Venus berkisaran antara sekitar 90 derajat F dan 160 derajat F (30 derajat C hingga 70 derajat C) dan tekanan hampir sama seperti yang anda akan temukan di permukaan laut di planet kita sendiri.

Di sisi lain, udara venusian ini diketahui mengandung asam dan sulfur yang agak beracun, setidaknya untuk sebagian besar bentuk kehidupan mikroorganisme.

Hewan Apakah Yang Dapat Bertahan di Lingkungan Se-ekstrim Venus?

Selama bertahun-tahun, para ilmuwan telah menyusun katalog besar yang berisi daftar mikroba yang diketahui dapat bertahan hidup dan berkembang biak dalam lingkungan yang sangat keras di Bumi.

Salah satu organisme tersebut adalah hewan Tardigrade yang terkenal sangat ramah pada manusia. Hewan mikroskopis (hewan yang tidak bisa di lihat secara langsung dan perlu bantuan alat untuk dapat melihatnya) ini sering juga disebut sebagai “beruang air” yang dapat bertahan bahkan dalam kondisi paling ekstrim sekalipun.

Makhluk keras ini telah ditemukan hampir di segala tempat di planet ini, mulai dari gurun terkering hingga puncak gunung tertinggi. Pada tahun 2007, peneliti bahkan menemukan bahwa Tardigrades dapat bertahan hingga selama kurang lebih 10 hari dalam ruang hampa yang diradiasi.

Meskipun beruang air ini bisa hidup di mana saja, akan tetapi mereka ternyata lebih suka tinggal di sedimen di dasar danau, di atas hamparan lembab atau lingkungan basah lainnya. Mereka juga dapat bertahan hidup dalam berbagai suhu dan situasi.

Penelitian lainnya juga telah berhasil menemukan bahwa tardigrades dapat menahan lingkungan yang sangat dingin, atau pada suhu minus 328 derajat Fahrenheit (minus 200 Celsius) atau dalam suhu tertinggi, yaitu lebih dari 300 derajat F (148,9 C). Informasi ini ditulis di dalam majalah Smithsonian.

Selain itu, mereka juga dapat bertahan dari radiasi, cairan mendidih, tekanan dalam jumlah besar hingga enam kali tekanan dari bagian terdalam dari samudera dan bahkan ruang hampa udara tanpa perlindungan apa pun.

Pada awalnya, Tardigrades ini ditemukan oleh seorang pendeta Jerman yang bernama Johann August Ephraim Goeze pada 1773. Kemudian Dia menamakan mereka dengan Tardigrada, yang berarti “stepper lambat”.

Pada 1776, rohaniwan Italia dan ahli biologi Lazzaro Spallanzani telah menemukan bahwa beruang air tersebut dapat bertahan dalam kondisi ekstrim dengan membuat transformasi.

Dalam banyak kondisi, mereka dapat bertahan hidup dengan masuk pada situasi atau keadaan hampir mati yang disebut cryptobiosis. Mereka biasanya akan meringkuk menjadi bola dehidrasi, yang disebut tun, dengan mencabut kepala dan kaki mereka. Jika hewan ini dimasukkan kembali ke dalam air, tardigrade tersebut dapat hidup kembali hanya dalam hitungan beberapa jam.

Sementara saat berada pada kondisi cryptobiosis, aktivitas metabolik tardigrades pada tingkat terendah, yaitu 0,01 persen dari tingkat normal dan organ mereka dilindungi oleh gel bergula yang disebut trehalose.

Menurut penelitian oleh Universitas Tokyo, mereka juga tampaknya membuat sejumlah besar antioksidan, yang mungkin merupakan cara lain untuk melindungi organ-organ vital. Beruang air ini juga menghasilkan protein yang melindungi DNA mereka dari kerusakan radiasi.

Pada suhu dingin, mereka membentuk tuning khusus yang mencegah pertumbuhan kristal es. Mereka juga memiliki pertahanan lain ketika mereka berada di air.

Ketika air yang mereka tinggali memiliki kadar oksigen yang rendah, mereka akan meregang dan membiarkan tingkat metabolisme mereka berkurang. Dalam keadaan ini, otot-otot mereka akan menyerap oksigen dan air dengan cukup baik, sehingga mereka dapat bertahan hidup.

Pada tahun 2016, para ilmuwan menghidupkan kembali dua tuning dan telur yang telah berada di cryptobiosis selama lebih dari 30 tahun. Percobaan ini telah dilaporkan di dalam jurnal Cryobiology.

Laporan dari percobaan pada tahun 1948 juga telah mengklaim bahwa tun yang berusia lebih dari 120 tahun berhasil dihidupkan kembali, tetapi penelitian ini tidak pernah diduplikasi, menurut BBC.

Untuk dapat bertahan hidup, tardigrades memakan atau mengkonsumsi cairan. Mereka menyedot sari dari ganggang, lumut dan alga. Beberapa spesies dari mereka adalah karnivora dan bahkan ada yang kanibal, dimana mereka dapat memangsa tardigrades lainnya, menurut BBC.

Jadi, kesimpulan yang bisa diambil dari penjelasan di atas adalah mungkinkah hewan jenis mikroorganisme ini dapat bertahan hidup di atmosfer Venus yang sangat beracun itu?

Sebenarnya agak susah untuk menjawab pertanyaan di atas, karena anda tahu sendirikan betapa bahayanya planet Venus ini dan seberapa tidak mungkinnya ditemukan kehidupan di sana? Hal ini lah yang bisa menjadi salah satu alasan mengapa rasa-rasanya sangat tidak mungkin hewan ini mampu bertahan di sana.

“Di Bumi ini kita tahu bahwa kehidupan dapat berkembang dalam kondisi yang sangat asam, dapat memberi makan karbon dioksida pada makhluk hidup atau mikroorganisme tertentu dan menghasilkan asam sulfat,” kata rekan penulis Rakesh Mogul, seorang profesor kimia biologi di California State Polytechnic University, Pomono, dalam sebuah pers.

Mempertimbangkan hal ini, Mogul mengatakan bahwa perlu dicatat bahwa atmosfer Venus terbuat dari karbon dioksida dan air yang mengandung banyak asam sulfur, yang berarti awan beracun tidak selalu mengesampingkan kehidupan venusian.

Hal yang paling penting di dalam laporan ini adalah bahwasannya kondisi fisik dan kimia di atmosfer Venus tidak hanya memungkinkan adanya kehidupan mikroorganisme, tetapi juga berkontribusi terhadap perubahan yang terjadi secara terus-menerus di awan planet.

“Venus menunjukkan beberapa bercak gelap, kaya akan sulfur yang episodik, dengan kontras hingga 30-40 persen dalam ultraviolet dan diredam dalam panjang gelombang yang lebih panjang,” kata Limaye. “Tambalan ini bertahan selama berhari-hari, mengubah bentuk dan kontras mereka secara terus-menerus dan tampak bergantung pada skala.”

Para peneliti juga menunjukkan bahwa, berdasarkan pengamatan spektroskopi sebelumnya, tambalan gelap tersebut terdiri dari partikel yang memiliki ukuran dan bentuk yang hampir sama dengan beberapa bakteri penyerap cahaya yang ditemukan di Bumi.

Menurut Limaye dan Mogul, ini berarti bahwa patch atmosfer dapat menjadi tempat hidup koloni mikroorganisme, mirip dengan ganggang mekar yang biasa ditemukan di beberapa perairan yang ada di Bumi. Namun, setiap instrumen yang digunakan untuk mencicipi atmosfer Venus sejauh ini tidak mampu membedakan antara senyawa anorganik dan organik.

“Jadi dengan begitu, untuk bisa mengetahui apa sebenarnya yang terdapat di sana (Venus), maka kita harus memeriksa sampel awannya”, kata Mogul.

Dengan adanya semua penelitian terbaru ini, tampaknya Venus bisa menjadi bagian baru yang akan sangat menarik untuk melakukan eksplorasi astrobiologi.

Namun sampai sekarang, mengenai kemungkinan kehidupan di luar angkasa, terutama di Venus masih akan menjadi sebuah misteri, yang masih dalam tahap penyelidikan dan penelitian lanjutan.

Itulah tadi informasi terbaru mengenai hasil penelitian para ilmuwan tentang keberadaan makhluk hidup di Venus yang bisa kami sampaikan.

Intinya, keberadaan mikroorganisme di planet seekstrim Venus masih belum diketahui dengan pasti. Tapi jika dilihar dari penjelasan dari para ilmuwan yang menelitinya, sepertinya memang ada kemungkinan planet ini dihuni oleh mikroorganisme tertentu, yang memiliki kemampuan beradaptasi dalam segala lingkungan.

Adapun hewan yang diprediksi mengisi kehidupan di planet Venus tersebut adalah Tardigrade. Kalau dilihat dari kemampuan bertahan hidupnya, masuk akal memang hewan ini berada di lingkungan Venus yang sangat ekstrim.  Tapi itu baru pradugaan saja.

Untuk memastikannya, para ahli harus melakukan penelitian dan proses pengamatan yang jauh lebih dalam lagi. Semoga saja kita bisa mendapatkan jawabannya dalam kurun waktu dekat ini. Demikian informasi dari kami, semoga bermanfaat untuk semakin memperkaya wawasan anda.

Share.

About Author